MAKALAH
INSTRUMENTASI DALAM KONSELING II
“Perkembangan
Kepribadian Peserta Didik dengan Kecerdasan Ganda, Perkembangan Kreativitas
Peserta Didik dan Perkembangan dalam Kelompok Sebaya”
Di Susun Oleh : Mortinah (A1E114016)
Kelas : BK Reguler
(R2/D) 2015
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Hj. Emosda, M.pd. Kons
Jelpa
Periantalo, S.Psi, M.Psi, Psi
Program
Studi Bimbingan dan Konseling
Jurusan
Ilmu Pendidikan
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Jambi
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang memberi kami rahmat dan kesempatan
untuk menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Kepribadian Peserta Didik dengan Kecerdasan Ganda,
Perkembangan Kreativitas Peserta Didik dan Perkembangan dalam Kelompok Sebaya”.
Menilai
profil atau tingkat kecedasan seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi
kecerdasan gandanya. Hingga kini tidak ada tes yang dapat menilai sifat atau
kualitas kecerdasan orang dengan benar-benar akurat. Tes-tes standar seperti
tes kecerdasan, itu hanya mengukur sebagian kecil dari keseluruhan spectrum
kemampuan manusia. Cara terbaik menilai kecerdasan ganda seorang atau bahkan
diri sendiri adalah melalui penilaian kinerja secara realistis pada berbagai
macam tugas, kegiatan, dan pengalaman yang berkaitan dengan setiap
kecerdasan.
Disini
saya akan coba membahas lebih dalam lagi tentang kecerdasan ganda yang dimiliki
oleh peserta didik. Apa saja yang termasuk dalam kecerdasan, dan hal-hal lain
yang berhubungan dengan kecerdasan.
Jambi,
16 Desember 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................... ii
BAB
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang........................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah..................................................................................... 1
C. Tujuan
Pembahasan................................................................................... 2
BAB
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
kecerdasan............................................................................... 3
B. Faktor
yang mempengaruhi kecerdasan..................................................... 3
C. Alat
kecerdasan.......................................................................................... 6
D. Kecerdasan
ganda.................................................................................... 6
E. Implikasi
perkembangan kreatifitas............................................................... 16
F. Kecerdasan
ganda dalam hubungan teman sebaya........................................ 16
BAB
III. PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................
25
B. Saran.........................................................................................................
25
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui
pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi.
Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu
tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah
memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi
yang dimiliki menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya. Program pendidikan
dan pembelajaran seperti yang berlangsung saat ini oleh karenanya harus lebih
diarahkan atau lebih berorientasi kepada individu peserta didik.
Kenyataan
menunjukkan bahwa program pendidikan yang berlangsung saat ini lebih banyak
dilaksanakan dengan cara membuat generalisasi terhadap potensi dan kemampuan
siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman pendidik tentang
karakteristik individu.
Muncul
keluhan dari pendidik atau guru bahwa mereka merasa bahwa menjelakan sejelas
jelasnya tetapi ada saja anak didik yang tidak dapat memhami pelajaran dengan
baik. Setiap kali orang belajar pasti melibatkan pikirannya dan didalam pikiran
tersebut ada kecerdasan. Salah satu temuan yang sangat bermanfaat adalah bahwa
setiap individu memiliki tidak hanya memiliki satu kecerdasan tetapi lebih
yaitu disebut juga multiple intelligences atau kecerdasan ganda. Oleh karena
itu, penulis tertarik untuk membahasnya di dalam makalah ini yaitu tentang
“kecerdasan ganda (multiple intelligences)”.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
yang disebut dengan kecerdasan ganda ?
2. Apa
saja jenis-jenis kecerdasan ganda ?
3. Bagaimana
cara yang dilakukan pendidik dalam meningkatkan kecerdasan ganda ?
4. Bagaimana
implikasi perkembangan kreatifitas dalam kecerdasan ganda ?
5. Bagaimana
kecerdasan ganda dalam hubungan dengan teman sebaya ?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun
tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui pengertian kecerdasan ganda,
2. Untuk
mengetahui jenis – jenis kecerdasan ganda,
3. Untuk
mengetahui cara – cara yang dilakukan oleh pendidik dan guru dalam meningkatkan
kecerdasan ganda,
4. Untuk
mengetahui implikasi perkembangan kreatifitas yang dimiliki seorang anak, dan
5. Untuk
mengetahui hubungan kecerdasan ganda dalam teman sebaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kecerdasan
Menurut
William Stern, kecerdasan adalah kapasitass umum dari kesadaran individu untuk
menyesuaikan pikirannya terhadap persyaratan atau tuntutan baru. Sedangkan,Charless
Spearman menyebutkan bahwa kecerdasan merupakan dua kemampuan, yaitu kemampuan
yang memegang tugas-tugas Intelektual dan sejumlah kemampuan khusus (memecahkan
persoalan). Bailer dan charles mengungkapkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan
seseorang untuk menyesuaikan dan memecahkan persoalan-persoalan baru. Menurut
Woudworh, kecerdasan itu sebagai suatu tindakan yang bijaksana dalam menghadapi
setiap situasi secara tepat dan berhasil.
Menurut
Gardner, intelegensi bukan hanya sekedar nilai-nilai IQ semata, melainkan
merupakan kepingan-kepingan kemampuan yang berlokasi pada bagian-bagian yang
berbeda dari otak. Kemampuan-Kemampuan ini saling berhubungan, namun strategi
mengembangkan potensi kecerdasan anak bekerja secara mandiri. Intelegensi itu
tidak statis atau menetap sejak lahir. Jean Piaget melakukan penelitian pada
perkembangan intelektual anak sejak lahir hingga dewasa. Dan ia membagi
perkembnagan itu menjadi empat tahap, yaitu tahap sensori motorik,
praoperasional formal. Dalam perkembnagan sensori-motorik, anak dapat
menghubungkan anatara indra dan aktifitas, motoriknya melalui percobaan, dan
anak mulai membedakan diri dari realitas diluar dirinya. Dalam perkembnagan
praopreasional, anak mulai menggunakan bahasa dan dapat mengubah objek-objek
kedalam bentuk simbol, baik dalam pikiran maupun kata, namun masih bersifat
egosentris. Perkembnagan operasional konkret yaitu anak mulai mampu berpikir
logis dan memahami konsep konservasi.
B. Faktor Yang Memengaruhi
Kecerdasan
Terdapat
beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu:
1. Faktor
Bawaan atau Biologis
Dimana
faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan
atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh
faktor bawaan. Meskipun banyak argumentasi para ahli tentang besaran pengaruh
genetika atau faktor keturunan dalam perkembangan kecerdasan seseorang, tetapi
semua sepakat bahwa genetika sedikit banyak berpengaruh. Hasil riset dibidang
neuroscience menunjukkan bahwa faktor genetika berpengaruh terhadap respon
kognitif seperti kewaspadaan, memori, dan sensori. Artinya seseorang akan
berpikir dan bertindak dengan menggunakan ketiga aspek itu secara simultan.
2. Faktor
Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana
minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi
perbuatan itu.
3. Faktor
Pembentukan atau Lingkungan
Dimana
pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan inteligensi.
4. Faktor
Kematangan
Dimana
tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
5. Faktor
Kebebasan
Hal
ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang
dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah
yang sesuai dengan kebutuhannya.
6. Pengalaman
Pengalaman
merupakan ruang belajar yang dapat mendorong pertumbuhan potensi seseorang.
Penelitian menunjukkan bahwa potensi otak tumbuh dan berkembang sejalan dengan
pengalaman hidup yang dilaluinya. Sejak lahir hingga masa kanak-kanak yang memperoleh
pengasuhan yang baik dari ibunya akan tumbuh lebih cepat dan lebih sukses
dibanding anak yang kurang mendapat perhatian cenderung menimbulkan rasa rendah
diri dan frustasi. Bila hal ini berjalan secara berulang-ulang akan menentukan
besaran potensi kecerdasan yang dimilikinya.
7. Lingkungan
Lingkungan
atau konteks akan banyak membentuk kepribadian termasuk potensi kecerdasan
seseorang. Lingkungan yang memberikan stimulus dan tantangan diikuti upaya
pemberdayaan serta dukungan akan memperkuat mental dan kecerdasan.
8. Kemauan
dan Keputusan
Kemauan
yang kuat dalam diri seseorang membantu meningkatkan daya nalar dan kemampuan
memecahkan masalah. Kemauan dan keputusan sering dijelaskan dalam teori
motivasi. Dorongan positif akan timbul dalam diri seseorang sejalan dengan
lingkungan yang kondusif, sebaliknya jika lingkungan kurang menantang sulit
untuk membangun kesadaran untuk berkreasi. Otak yang paling cerdas sekalipun
akan sulit mengembangkan potensi intelektualnya.
9. Aktivitas
Belajar dan Kegiatan Harian
Aktivitas
dan kebiasaan manusia merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bermakna
bagi kesuksesan seseorang. Menggali kebiasaan hidup sehari-hari sangat membantu
dalam memetakan pengalaman belajar yang dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan
yang dibutuhkan dalam masyarakat. Implikasi dari model belajar terpadu melalui
aktivitas dan pengalaman nyata pada intinya menyerukan perubahan fundamental
dalam praktek bersekolah-di-rumah yang bersifat padagogis dengan rangkaian
pengembangan kemampuan majemuk melalui kebiasaaan dan pengalaman yang
berlangsung sepanjang hayat. Dalam konteks pembelajaran di rumah, aktivitas
merupakan pengalaman itu sendiri yang dibangun berdasarkan nilai-nilai,
kebiasaan, tindakan, kerjasama dan keputusan yang dirangkaikan melalui pola
hubungan positif dengan keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Pelatihan bukan
upaya menerampilan suatu kemampuan tertentu kepada sebagian kelompok
masyarakat, tetapi membangun kemampuan belajar berinteraksi dan merencanakan
perubahan kedepan.
C. Alat Kecerdasan
Di
dalam tubuh manusia terdapat sebuah alat yang sangat mempengaruhi tingkat
kecerdasan seseorang yaitu otak. Otak adalah organ yang sangat kompleks.
Seluruh tubuh dan gerak kita selalu ada di bawah kendali otak. Otak bergerak
berdasarkan pikiran. Antara otak dan pikiran sulit dipisahkan. Otak adalah
orang nyata yang kasatmata, sebaliknya pikiran bersifat abstrak dan tidak bisa
dilihat. Hasil kerja pikiran adalah nyata, dan ini merupakan hasil kerja otak
juga, yang menandakan bahwa pikiran dan otak pada saat bekerja selalu bekerja
sama.
D. Kecerdasan Ganda
1. Pengertian Kecerdasan Ganda
Istilah
kecerdasan atau intelegensi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita sebagai
pendidik. Namun sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu tentang
kecerdasanpun berkembang. Banyak ahli dari berbagai bidang disiplin ilmu
melakukan penelitian tentang otak manusia. Setiap individu tidak hanya memiliki
satu kecerdasan tetapi lebih yaitu disebut juga multiple intelligences atau
kecerdasan ganda.
Teori
Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner –
seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan acuan
untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu.Jerold E. Kemp dan
kawan-kawan mengemukakan (1996) beberapa karakteristik individu siswa yang
perlu dipahami antara lain :
•
Age and maturity level
•
Motivation and attitude toward subject
•
Expectation and vocational level
•
Special Talent
•
Mechanical Dexterity
•
Ability to work under various enviro condition.
Salah
satu karakteristik penting dari individu yang perlu dipahami oleh guru sebagai
pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami
kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses
pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi
terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa
tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa pada
dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem
persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang.
Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka
secara optimal.
2. Jenis – Jenis Kecerdasan
Ada
delapan jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner yaitu :
a.
Intelegensi Bahasa (Linguistik)
Kecerdasan bahasa berisi kemampuan untuk berfikir dengan kata-kata dan
menggunakan bahasa untuk mengekspresikan arti yang kompleks.
Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi
bahasa :
Ø Senang
membaca buku, bercerita atau mendongeng
Ø Senang
berkomunikasi, berbicara,berdialog, berdiskusi dan senang berbahasa asing.
Ø Pandani
menghubungkan atau merangkaikan kata – kata atau kalimat baik lisan ataupun
tertulis.
Ø Pandai
menafsirkan kata – kata atau paragraph baik secara lisan maupun tertulis.
Ø Senang
mendengarkan musik dan sebagainya dengan baik.
Ø Pandai
mengingat dan menghafal.
Ø Humoris.
Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu
• Pengarang
• Penyair
• Wartawan
• Pembicara
• Pembaca berita
b. Intelegensi
Logis – matematis
Kecerdasan
logis matematis memungkinkan seseorang terampil dalam melakukan hitungan,
penghitungan atau kuantifikasi, mengemukakan proposisi dan hipotesis dan
melakukan operasi matematis yang kompleks. Berikut ini karakteristik individu
yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi logis matematis :
a.
Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka – teki.
b.
Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.
c.
Senang mengorganisasikan sesuatu, menyusun scenario.
d.
Mampu berfikir logis baik induktif maupun deduktif.
e.
Senang silogisme .
f.
Senang berfikir abstraksi dan simbolis.
Contoh
– contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis logis adalah ilmuwan,
matematikawan, akuntan, insinyur, dan pemprogram computer
c. Intelegensi
Visual Spasial
Orang
yang memiliki kecerdasan spasial adalah orang yang memiliki kapasitas dalam
berfikir secara tiga dimensi. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan
spasial adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis daan arsitek. Kecerdasan
spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal
maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis.
Berikut
ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi visual
spasiall :
a.
Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik dan table.
b.
Peka terhadap citra, warna dan sebagainya.
c.
Pandai menvisualisasikan ide.
d.
Imaginasinya aktif.
e.
Mudah menemukan jalan pada ruang.
f.
Mempunyai presepsi yang tepat dari berbagai sudut.
g.
Mengenal relasi benda – benda dalam ruang.
d. Intelegensi
Musikal
Kecerdasan
musikal dibuktikan dengan adanya rasa sensitif terhadap nada, melodi, irama
musik. Orang-orang yang memilki kecerdasan musikal yang baik antara lain ;
komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen dan orang-orang
sensitif terhadap unsur suara.
Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi
musikal :
a.
Pandai mengubah atau mencipta musik.
b.
Senang dan padai bernyanyi.
c.
Pandai mengoperasikan musik serta menjaga ritme.
d.
Mudah menangkap musik.
e.
Peka terhadap suara dan musik.
e. Intelegensi
Kinestetik Tubuh
Kecerdasan
kinestetik tubuh adalahkecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek
dan cakap melakukan aktivitas fisik. Contoh-contoh orang yang memiliki
kecerdasan kinestetik yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin. Berikut
ini individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi kinestetik tubuh.
:
a.
Senang menari atau akting.
b.
Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu.
c.
Mudah berekspresi dengan tubuh.
d.
Mampu memainkan mimic.
e.
Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.
f.
Senang dan efektif berfikir sambil berjalan, berlari dan berolahraga.
g.
Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.
h.
Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
i.
Senang kegiatan di luar rumah.
f. Intelegensi
Intrapersonal
Kecerdasan
interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat
memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain.
Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti; guru
yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi. Saat ini orang mulai menyadari
bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat
kesuksesan seseorang.
Berikut
ini individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi intra personal :
a.
Mampu menilai diri sendiri dan bermediasi.
b.
Mampu mencanangkan tujuan, menyusun cita – cita dan rencana hidup yang jelas.
c.
Berjiwa bebas.
d.
Mudah berkonsentrasi.
e.
Keseimbangan diri.
f.
Senang mengekspresikan perasaan – perasaan yang berbeda.
g.
Sadar akan realitas spiritual.
g. Intelegensi
Interpersonal
(Sosial)
Kecerdasan
intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi
yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam
membuat rencana dan mengarahkan orang lain. Berikut ini karakteristik individu
yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi intrapersonal:
a.
Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam organisasi.
b.
Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok bekerja sama dalam
tim.
c.
Senang permainan berkelompok dari pada individual.
d.
Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.
e.
Senang berkomunikas verbal dan nonverbal.
f.
Peka terhadap teman.
g.
Suka memberi feedback.
h.
Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.
h. Intelegensi
Naturalis
Keahlian
mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungannya. Para
pecinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang – orang yang memiliki
kecerdasan ini. Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan
dalam inteligensi naturalis :
a. Senag terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun, memelihara binatang,
berinteraksi dengan
binatang
dan berburu.
b.
Pandai melihat perubahan cuaca, meneliti tanaman.
c.
Senang kegiatan di alam terbuka.
3. Cara Meningkatkan Kecerdasan
Ganda
Gambaran
umum dalam pembelajaran saat guru menjelaskan adalah ada anak yang senang
menerima pelajaran dan berbagai macam sifat siswa di dalam tingkat
kecerdasannya. Menurut Thomas Amstrong, kita tidak dapat memberi label mereka
sebagai “pebelajar verbal”, “pebelajar visual” atau “pebelajar kinestesis” atau
seterusnya karena tujuan dari suatu kegiatan pembelajaran adalah untuk
memperluas dan mengembangkan intelegensi/ kecerdasan anak didik. Tugas guru dan
pendidik adalah bagaimana menciptakan suasana belajar yang dapat mengembangkan
semua kecerdasan yang ada pada setiap individu anak didik. Ada beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang mengembangkan semua
kecerdasan yaitu sebagai berikut :
•
Mengaktifkan seluruh indra anak didik
•
Melatih intelegensi / kecerdasan yang berimbang
•
Melatih silang intelegensi / kecerdasan yang bebeda.
4. Faktor – Faktor Penting dalam
Meningkatkan Kecerdasan Ganda
Implementasi
teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan
komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :
•
Orang tua murid
•
Guru
•
Kurikulum dan fasilitas
•
Sistem penilaian
Komponen
masyarakat, dalam hal ini orang tua murid perlu memberikan dukungan yang
optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil.
Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan
sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin
dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.
Guru
memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda.
Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang
diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :
•
Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
Kemampuan
guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal
yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan
proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat
dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh
siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah
bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.
•
Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.
Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka langkah – langkah
berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004)
mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam
mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :
30 % pembelajaran langsungØ
30
% belajar kooperatifØ
30%
belajar independentØ
Implementasi
teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai
sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan
pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu
menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan
potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain
mampu memainkan instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga
dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.
Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas
pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh
guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.
Fasilitas
dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan
pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh
fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda
antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang
dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.
Sistem
penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda
berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional.
Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa
semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada
input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan
(progress) yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan
yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah
metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada
perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah
keterampilan atau pengetahuan.
5. Kecerdasan Ganda dalam
pembelajaran
Teori
kecerdasan majemuk ini menjelaskan fungsi kognitif yang menyatakan bahwa
seseorang memiliki kapasitas dalam kesepuluh kecerdasan tersebut dan berjalan
secara bersamaan dengan cara yang berbeda pada setiap orang. Orang pada umumnya
mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan tertentu.
Kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks, karena
kecerdasan selalu berinteraksi satu sama lain. Kecerdasan majemuk menekankan
keanekaragaman cara orang menunjukkan bakat baik dalam satu kecerdasan tertentu
maupun antarkecerdasan.
Setiap
individu memiliki kesepuluh kecerdasan dan dapat dikembangkan sampai pada
tingkat kompetensi yang paling optimal. Di sisi lain, masing-masing anak
memiliki kecenderungan terhadap kecerdasan tertentu atau kelebihan yang
ditunjukkan melalui perilaku spesifik. Dalam pembelajaran harus dihindari
pembatasan kemampuan hanya dalam satu kategori atau wilayah kecerdasan tertentu
saja. Tetapi lebih penting bagaimana anak di perlakukan sebagai orang yang
sedang melakukan perjalanan hidupnya dengan cara yang memungkinkan
mengoptimalkan apa yang ada dalam dirinya.
Dalam
proses pembelajaran di sekolah, pengembangan kecerdasan dapat dilakukan dengan
teknik “tutor sebaya”, dengan cara guru menyeleksi anak yang memiliki
keunggulan dalam bidang tertentu. Anak yang memiliki keunggulan di bidang
matematika misalnya, diminta untuk membimbing teman-temannya yang kurang
dalam bidang matematika. Demikian juga untuk bidang kecerdasan yang lain.
Menilai
potensi dan cara anak dalam mencapai tujuan tertentu merupakan langkah awal
dalam mengenal kecerdasan ganda. Tidak sada satu tes pun yang dapat
menghasilkan keputusan yang komprehensif mengenai kecerdasan dan potensi
pembelajar. Tidak selamanya tes formal mampu memberikan informasi yang cukup
mengenai kecerdasan seseorang, namun perlu dilengkapi dengan berbagai alat uji
lain seperti catatan sederhana, laporan pertumbuhan fisik, dan observasi.
Indikator pengamatan yang baik dapat menunjukkan kecenderungan terhadap aspek
kecerdasan seseorang, terutama cara menggunakan waktu luang, minat terhadap
suatu objek, kebiasaan dan tindakan yang menonjol. Secara sederhana observasi
membantu dalam menggali kecenderungan kemampuan seseorang dan menentukan
wilayah lain yang perlu dioptimalkan. Menyatukan seluruh kecerdasan yang
dimiliki menjadi prinsip yang dipegang oleh pendidik dan orang tua.
E. Implikasi Perkembangan
Kreatifitas
Secara
umum kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir dan bersikap
tentang sesuatu dengan cara yang baru dan tidak biasa guna menghasilkan
penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan. Menurut pendapat Galdner
(Depdikbud, 1999:88), kreativitas merupakan suatu aktivitas otak yang
terorganisasikan, komprehensif, dan imajinatif tinggi untuk menghasilkan
sesuatu yang orisinil. Oleh karena itu, kreativitas lebih dikatakan sebagai
suatu yang lebih inovatif daripada reproduktif. Desmita dalam bukunya Psikologi
Perkembangan(2008:176) memaparkan tentang perhatian para psikolog dan kalangan
dunia pendidikan terhadap kreativitas sebagai salah satu aspek dari fungsi
kognitif yang berperan dalam prestasi anak di sekolah, yang bermula dari pidato
Guilford tahun 1950. Guilford dalam pidatonya menegaskan bahwa kreativitas
perlu dikembangkan melalui jalur pendidikan guna mengembangkan potensi peserta
didik secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni.
Menyadari
posisi strategis kreativitas dalam kehidupan peserta didik, perlu dikemukakan
berbagai upaya yang dapat mendukung pengembangan kreativitas terhadap
pendidikan. Namun dalam kenyataannya, kreativitas bukanlah sesuatu yang
diajarkan kepada peserta didik, melainkan hanya memungkinkan untuk dapat
dimunculkan. Oleh sebab itu, Treffinger (Depdikbud, 1999:105) mengemukakan
sejumlah pengalaman belajar yang dapat dikembangkan oleh pendidik agar mampu
mendorong kreativitas peserta didik, khususnya dalam proses pembelajaran. Hal
tersebut antara lain guru diharapkan dapat menyajikan materi pembelajaran,
menyiapkan berbagai media, menggunakan pendekatan pembelajaran yang
memungkinkan posisi peserta didik sebagai subjek daripada objek pembelajaran,
serta mengadakan evaluasi yang tepat sehingga mampu mendukung pengembangan
kreativitas peserta didik.
F. Kecerdasan Ganda dalm Hubungan
dengan Teman Sebaya
A. latar belakang
dari hubungan dengan teman sebaya
1)
Adanya perkembangan proses sosialisasi. Pada usia remaja (usia anak SMP dan
SMA), individu mengalami proses sosialisasi, di mana mereka itu sedang belajar
memperoleh kemantapan sosial dalam mempersiapkan diri untuk menjadi orang
dewasa yang baru. Sehingga individu mencari kelompok yang sesuai dengan
keinginannya, di mana individu bisa saling berinteraksi satu sama lain dan
merasa diterima dalam kelompok.
2)
Kebutuhan untuk menerima penghargaan. Secara psikologis, individu butuh
penghargaan dari orang lain, agar mendapat kepuasan dari apa yang telah
dicapainya. Oleh karena itu individu bergabung dengan teman sebayanya yang
mempunyai kebutuhan psikologis yang sama yaitu ingin dihargai. Sehingga
individu merasakan kebersamaan/kekompakan dalam kelompok teman sebayanya.
3)
Perlu perhatian dari orang lain. Individu perlu perhatian dari orang lain
terutama yang merasa senasib dengan dirinya. Hal ini dapat ditemukan dalam
kelompok sebayanya, di mana individu merasa sama satu dengan yang lainnya,
mereka tidak merasakan adanya perbedaan status, seperti jika mereka bergabung
dengan dunia orang dewasa.
4)
Ingin menemukan dunianya. Di dalam peer group individu dapat
menemukan dunianya, di mana berbeda dengan dunia orang dewasa. Mereka mempunyai
persamaan pembicaraan di segala bidang. Misalnya: pembicaraan tentang hobi dan
hal-hal yang menarik lainnya.
B. Hakikat teman sebaya / peer
group
Peer
group bagaimanapun juga terbentuk mulai dari kelompok informal ke
organisasi. Semula individu yang bukan anggota kelompok sekarang menjadi
anggota kelompok teman sebayanya. Anak-anak sebaya akan berinteraksi dengan anggota
teman sebayanya, sehingga ia bertumbuh di dalamnya.
Peer
group mempunyai aturan-aturan tersendiri baik ke dalam maupun ke luar. Hal
ini juga dimiliki oleh organisasi sosial lainnya dan merupakan harapan bagi
anggota kelompoknya. Aturan-aturan itu, misalnya bagaimana menolong teman
sekelompoknya atau bagaimana memanggil teman bila bertemu di jalan. Peer
group menyatakan tradisi-tradisi mereka, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai,
bahkan bahasa mereka. Karena dalam peer group mempunyai aturan-aturan
tersendiri maka mereka juga ingin menunjukkan ciri khas kelompoknya dengan
tradisi atau kebiasaan mereka. Dalam kelompok itu ada standar tertentu dalam
berpakaian, berbicara antar anggota kelompok dan dalam bertingkah laku.
Situasi
daripada harapan peer group, sepenuhnya disetujui oleh harapan-harapan
orang dewasa. Pembentukan kelompok sebaya seperti kelompok bermain di sekitar
anak secara tidak langsung disetujui oleh orang tua, karena orang tua mudah
mengawasinya. Atau kelompok teman di sekolahnya disetujui oleh guru, karena
memenuhi harapan guru agar anak berkembang hubungan sosialnya. Pada
kenyataannya peer group diketahui dan diterima oleh sebagian besar
orang tua dan guru. Kepentingan dalam hubungan sosial individu sering tidak
dikenal oleh anak. Sebagai perbandingan dengan lembaga sosial lainnya seperti
keluarga atau sekolah, maka peer group anak belajar tentang hubungan
sosialnya dari yang sempit sampai hubungan sosialnya yang semakin luas, dari
teman sebaya di rumah sampai teman sekolahnya dan hal ini dapat
C. Fungsi teman sebaya
Fungsi-fungsi
tersebut adalah sebagai berikut:
Mengajarkan
kebudayaan. Dalam peer group ini diajarkan kebudayaan yang berada di
tempat itu. Misalnya: orang luar negeri masuk ke Indonesia, maka teman
sebayanya di Indonesia mengajarkan kebudayaan Indonesia.
Mengajarkan
mobilitas sosial. Mobillitas sosial adalah perubahan status yang lain. Misalnya
ada kelas menengah dan kelas rendah (tingkat sosial). Dengan adanya kelas
rendah pindah ke kelas menengah dinamakan mobilitas social. Membantu peranan
sosial yang baru. Peer group memberi kesempatan bagi anggotanya untuk
mengisi peranan sosial yang baru. Misalnya: anak yang belajar bagaimana menjadi
pemimpin yang baik, dan sebagainya.
Peer
group sebagai sumber informasi bagi orang tua dan guru bahkan untuk
masayarakat. Kelompok teman sebaya di sekolah bisa sebagai sumber informasi
bagi guru dan orang tua tentang hubungan sosial individu dan seorang yang
berprestasi baik dapat dibandingkan dalam kelompoknya.Peer group di
masyarakat sebagai sumber informasi, kalau salah satu anggotanya berhasil, maka
di mata masyarakat peer group itu berhasil. Atau sebaliknya, bila
suatu kelompok sebaya itu sukses maka anggota-anggotanya juga baik.
Dalam peer
group, individu dapat mencapai ketergantungan satu sama lain. Karena
dalam peer group ini mereka dapat merasakan kebersamaan dalam
kelompok, mereka saling tergantung satu sama lainnya.
Peer
group mengajar moral orang dewasa. Anggota peer group bersikap
dan bertingkah laku seperti orang dewasa, untuk mempersiapkan diri menjadi
orang dewasa mereka memperoleh kemantapan sosial. Tingkah laku mereka seperti
orang dewasa, tapi mereka tidak mau disebut dewasa. Mereka ingin melakukan
segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang dewasa, mereka ingin menunjukkan
bahwa mereka juga bisa berbuat seperti orang dewasa.
Di
dalam peer group, individu dapat mencapai kebebasan sendiri. Kebebasan di
sini diartikan sebagai kebebasan untuk berpendapat, bertindak atau untuk
menemukan identitas diri. Karena dalam kelompok itu, anggota-anggota yang lain
juga mempunyai tujuan dan keinginan yang sama. Berbeda dengan kalau anak
bergabung dengan orang dewasa, maka anak akan sulit untuk mengutarakan pendapat
atau untuk bertindak, karena status orang dewasa selalu berada di atas dunia
anak sebaya.
Di
dalam peer group, anak-anak mempunyai organisasi sosial yang baru. Anak
belajar tentang tingkah laku yang baru, yang tidak terdapat dalam keluarga.
Dalam keluarga yang strukturnya lebih sempit, anak belajar bagaimana menjadi
anak dan saudara. Sekarang dalam peer group mereka belajar tentang
bagaimana menjadi teman, bagaimana mereka berorganisasi, bagaimana berhubungan
dengan anggota kelompok yang lain, dan bagaimana menjadi seorang pemimpin dan
pengikut. Peer groupmenyediakan peranan yang cocok bagi anggotanya untuk
mengisi peranan sosial yang baru.
D. Ciri-ciri teman sebaya
Adapun
ciri-ciri daripada peer group adalah sebagai berikut:
Tidak
mempunyai struktur organisasi yang jelas. Peer group terbentuk secara
spontan. Di antara anggota kelompok mempunyai kedudukan yang sama, tetapi ada
satu di antara anggota kelompok yang dianggap sebagai pemimpin. Di mana semua
anggota beranggapan bahwa dia memang pantas dijadikan sebagai pemimpin,
biasanya anak yang disegani dalam kelompok itu. Semua anggota merasa sama
kedudukan dan fungsinya.
Bersifat
sementara. Karena tidak ada struktur organisasi yang jelas, maka kelompok ini
kemungkinan tidak bisa bertahan lama, lebih-lebih jika yang menjadi keinginan
masing-masing anggota kelompok tidak tercapai, atau karena keadaan yang
memisahkan mereka seperti pada teman sebaya di sekolah. Yang terpenting
dalam peer group adalah mutu hubungan yang bersifat sementara.
Peer
group mengajarkan individu tentang kebudayaan yang luas. Misalnya teman
sebaya di sekolah, mereka pada umumnya terdiri dari individu yang berbeda-beda
lingkungannya, di mana mempunyai aturan-aturan atau kebiasaan-kebiasaan yang
berbeda-beda pula. Lalu mereka memasukkannya dalam peer group, sehingga
mereka saling belajar secara tidak langsung tentang kebiasan-kebiasaan itu dan
dipilih yang sesuai dengan kelompok kemudian dijadikan kebiasaan-kebiasaan
kelompok.
Anggotanya
adalah individu yang sebaya. Contoh konkritnya pada anak-anak usia SMP atau
SMA, di mana mereka mempunyai keinginan dan tujuan serta kebutuhan yang sama.
E. Pengaruh perkembangan
teman sebaya
Menurut
Havinghurst pengaruh perkembangan peer group ini mengakibatkan
adanya:
Kelas-kelas
sosial. Pembentukan kelompok sebaya berdasarkan tingkat status sosial ekonomi
individu, sehingga dapat digolongkan atas kelompok kaya dan kelompok miskin.
‘In’
dan ‘Out’ group. ‘In’ group adalah teman sebaya dalam kelompok. ‘Out’ group
adalah teman sebaya di luar kelompok. Contoh yang mudah mengenai ‘in’ dan ‘Out’
group ini dapat kita rasakan dalam kelas, di mana kita mempunyai teman akrab
dan teman tidak akrab (biasa). Teman yang akrab tersebut dinamakan ‘in’ group
dan teman yang lainnya kita sebut ‘Out’ group.
Pengaruh
lain dalam peer group ini ada yang positif dan ada yang negatif.
Pengaruh
positif dari peer group adalah:
Apabila
individu di dalam kehidupannya memiliki peer group maka mereka akan
lebih siap menghadapi kehidupan yang akan datang.
Individu
dapat mengembangkan rasa solidaritas antar kawan.
Bila
individu masuk dalam peer group, maka setiap anggota akan dapat membentuk
masyarakat yang akan direncanakan sesuai dengan kebudayaan yang mereka anggap
baik (menyeleksi kebudayaan dari beberapa temannya).
Setiap
anggota dapat berlatih memperoleh pengetahuan, kecakapan dan melatih bakatnya.
Mendorong
individu untuk bersikap mandiri.
Menyalurkan
perasaan dan pendapat demi kemajuan kelompok.
Pengaruh
negatif dari peer group adalah;
Sulit
menerima seseorang yang tidak mempunyai kesamaan.
Tertutup
bagi individu lain yang tidak termasuk anggota.
Menimbulkan
rasa iri pada anggota satu dengan anggota yang lain yang tidak memiliki
kesamaan dengan dirinya.
Timbulnya
persaingan antar anggota kelompok.
Timbulnya
pertentangan/gap-gap antar kelompok sebaya, misalnya: antara kelompok kaya
dengan kelompok miskin. Berikut ini akan diuraikan beberapa aspek perkembangan
hubungan peserta didik dengan teman sebayanya.
a. Karakteristik
hubungan anak usia sekolah dengan teman sebayanya.
Seperti
halnya dengan masa awal anak-anak, berinteraksi dengan teman sebaya merupakan
aktivitas yang banyak menyita waktu anak selama masa pertengahan dan akhir
anak-anak. Barker dan Wright dalam Desmita (2009:224) mencatat bahwa: anak-anak
usia 2 tahun menghabiskan 10 % dari waktu siangnya untuk berinteraksi dengan
teman sebaya. Pada usia 4 tahun, waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi
dengan teman sebaya meningkat menjadi 20 %. Sedangkan anak usia 7 hingga 11
tahun meluangkan lebih dari 40 % waktunya untuk berinteraksi dengan teman
sebaya.
b. Pembentukan
kelompok
Interaksi
teman sebaya dari kebanyakan anak usia sekolah ini terjadi dalam grup atau
kelompok, sehingga periode ini sering disebut “usia kelompok”. Pada masa itu,
anak tidak lagi puas bermain sendirian di rumah, atau melakukan
kegiatan-kegiatan dengan anggota keluarga. Hal ini adalah karena anak memiliki
keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok, serta merasa tidak
puas bila tidak bersama teman-temanya.
Dalam
menentukan sebuah kelompok teman, anak usia sekolah dasar lebih menekankan
pentingnya aktivitas bersama-sama, seperti berbicara, berkeluyuran, berjalan ke
sekolah, berbicara melalui telepon, mendengarkan musik, bermain game, dan
melucu. Tinggal di lingkungan yang sama , bersekolah di sekolah yang sama, dan
berpartisipasi dalam organisasi masyarakat yang sama, merupakan dasar bagi
kemungkinan terbentuknya kelompok teman sebaya.
Krasnor
dalam Desmita (2009:225) mencatat bahwa:
Adanya
perubahan sifat dari kelompok teman sebaya pada anak usia sekolah. Ketika anak
berusia 6 hingga 7 tahun, kelompok teman sebaya tidak lebih dari pada kelompok
bermain; mereka memiliki sedikit peraturan dan tidak terstruktur untuk
menjelaskan peran dan kemudahan berinteraksi di antara anggota-anggotanya.
Kelompok terbentuk secara spontan. Ketika anak berusia 9 tahun,
kelompok-kelompok menjadi lebih formal. Sekarang anak-anak berkumpul menurut
minat yang sama dan merencanakan perlombaan-perlombaan. Mereka membentuk klub
atau perkumpulan dengan aturan-aturan tertentu. Kelompok-kelompok ini mempunyai
keanggotaan inti; masing-masing anggota harus berpartisipasi dalam aktivitas
kelompok, dan yang bukan anggota dikeluarkan.
c. Popularitas,
Penerimaan Sosial, dan Penolakan
Pada
anak usia sekolah dasar mulai terlihat adanya usaha untuk mengembangkan suatu
penilaian terhadap orang lain dengan berbagai cara. Hal ini terlihat pada
anak-anak kelas dua atau kelas tiga yang telah memiliki stereotip budaya
tentang tubuh. Misalnya saja dalam hal ini mereka menilai bahwa anak laki-laki
yang tegap (berotot) lebih disenangi dari pada anak laki-laki yang gemuk atau
kurus. Kemudian, pemilihan teman dari anak-anak ini terus meningkat dengan
lebih mendasarkan pada kualitas pribadi, seperti kejujuran, kebaikan hati,
humor, dan kreativitas.
Para
ahli psikologi perkembangan telah lama mempelajari pembentukan kelompok teman
sebaya dan status dalam kelompok untuk mengetahui anak-anak yang cenderung
menjadi populer. Para peneliti juga telah melakukan penelitian untuk menentukan
mana anak-anak yang sering sendiri dan mana anak yang disenangi oleh anak-anak
lain. Dalam penelitian ini, mereka telah menggunakan suatu teknik yang disebut
sosiometri (Hallinan, 1981), yaitu suatu teknik penelitian yang digunakan untuk
menentukan status dan penerimaan sosial anak di antara teman sebayanya. Dalam hal
ini, mereka secara khas menanyakan kepada anak-anak yang tergabung dalam suatu
organisasi (misalnya dalam ruang kelas), tentang mana anak-anak yang pantas
dikelompokkan sebagai “teman baik”, yang “paling disukai oleh anak-anak lain”,
atau yang “kurang disukai”. Atas dasar jawaban-jawaban dari anak-anak tersebut,
para peneliti menyusun sebuah sosiogram, yaitu suatu diagram yang menggambarkan
interaksi anggota suatu kelompok, atau bagaimana perasaan masing-masing anak
dalam suatu kelompok terhadap anak-anak lain. Sosiogram ini menentukan mana
anak-anak yang diterima oleh anak-anak lain, mana yang diterima sedikit teman
sekelas, dan mana anak yang tidak diterima oleh seorang pun. Berdasarkan
informasi ini, kemudian peneliti membedakan anak-anak atas dua, yaitu anak yang
populer dan anak yang tidak popular.
v Anak
yang Populer
Popularitas
seorang anak ditentukan oleh berbagai kualitas pribadi yang dimilikinya.
Hartup, 1983 (dalam Desmita, 2009) mencatat bahwa anak yang populer adalah anak
yang ramah, suka bergaul, bersahabat, sangat peka secara sosial, dan sangat
mudah bekerjasama dengan orang lain. Asher et al., 1982 (dalam
Desmita, 2009), juga mencatat bahwa anak-anak yang populer adalah anak-anak
yang dapat menjalin interaksi sosial dengan mudah, memahami situasi sosial,
memiliki keterampilan yang tinggi dalam hubungan antar pribadi dan cenderung
bertindak dengan cara-cara yang kooperatif, prososial, serta selaras dengan
norma-norma kelompok. Popularitas juga dihubungkan dengan IQ dan prestasi
akademik. Anak-anak lebih menyukai anak yang memiliki prestasi sedang, mereka
sering menjauh dari anak yang sangat cerdas dan yang sangat rajin di sekolah,
demikian juga halnya dengan mereka yang pemalas secara akademis (Zigler &
Stevenson, 1993).
v Anak
yang tidak Populer
Anak
yang tidak populer dibedakan atas dua tipe, yaitu: anak-anak yang ditolak dan
anak-anak yang diabaikan. Anak-anak yang diabaikan adalah anak yang menerima
sedikit perhatian dari teman-teman sebaya mereka, tapi bukan berarti mereka
tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya. Anak-anak yang ditolak adalah anak
yang tidak disukai oleh teman-teman sebaya mereka. Mereka cenderung bersifat
mengganggu, egois, dan mempunyai sedikit sifat-sifat positif.
Anak-anak
yang ditolak kemungkinan untuk memperlihatkan perilaku agresif, hiperaktif,
kurang perhatian atau ketidak dewasaan, sehingga sering bermasalah dalam
perilaku dan akademis di sekolah (Putallaz & Waserman, 1990). Akan tetapi
tidak semua anak-anak yang ditolak bersifat agresif.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Belajar
tidak saja mengangkat hal-hal yang bersifat kognitif saja dan mencakup
kemampuan satu aspek kecerdasan, tetapi menghidupkan secara utuh dan alamiah
seluruh kecerdasan melalui pendekatan yang sesuai. Mendidik dan melatih
merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan orang tua atau fasilitator dalam
merangsang seluruh kecerdasan dan memperbaiki aspek-aspek yang masih lemah.
Oleh karena itu, kemampuan mendidik sangat erat kaitannya dengan kemampuan
mengidentifikasi dan melihat potensi kecerdasan pebelajar serta memahami
bagaimana hal itu dikumpulkan dalam suatu rangkaian belajar yang menarik.
Pengalaman-pengalaman
menyenangkan ketika belajar akan menjadi aktivator bagi perkembangan kecerdasan
pada tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan pengalaman yang menakutkan,
memalukan, menyebabkan marah, dan pengalaman emosi negatif lainnya akan
menghambat perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya.
Perkembangan
kecerdasan dapat dilakukan dengan teknik konseling tutor sebaya. Dengan cara,
guru menyeleksi siswa yang memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Anak yang
memiliki keunggulan di bidang matematika misalnya, diminta membimbing
teman-temannya yang kurang matematika. Pembimbing di dalam kelompok dapat
bergantian tergantung pada kecerdasan apa yang akan dikembangkan.
B. Saran
Dari
makalah yang penulis sampaikan adapun saran penulis adalah setelah membaca
makalah ini diharapkan agar setiap orang mau belajar untuk mengasah kecerdasan
yang dimilikinya sehingga jika setiap orang mampu menggunakan inteligensi /
kecerdasannya yang paling kuat maka mereka akan menemukan bahwa belajar itu
mudah dan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Asri
Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Citra.
http://ismibrebes.blogspot.co.id/2015/02/makalah-perkembangan-kepribadian.html