Kamis, 07 Juni 2018

Ini catatan beberapa bulan yang lalu

Aku pernah berada di posisi ternyaman saat bersamamu. Berada jadi orang paling beruntung dan paling bahagia. Saat dipelukanmu tak ada tempat ternyaman selain itu. Tapi kamu tak pernah menghargai itu, kau anggap ak anak kecil, aku egois, sifat dan sikapku keras, aku wanita tak tau malu, bahkan kau hina aku.
Hingga kau bilang gak perlu miskol2 dan terlalu lebay lah.
Aku punya alasan kenapa aku miskol, saat ak mengingatmu lebih dari kata rindu aku cuma berani miskol, aku gak berani nelpon ataupun yang lainnya karna aku tau kamu gak akan senang dan kamu akan marah. Jadi cuma itu yg bisa aku lakukan, dan aku tak pernah tau berapa banyak air mata yg jatuh, hingga ku tulis ini pun ak masih menangisimu. Aku bodoh hanya karena suatu rasa yang gak bisa aku kendalikan.
Saat itu, aku jatuh sejatuh2nya, tapi aku melupakan segalanya karna ntah alasan apa. Bahkan sampai saat ini ak tak bisa membencimu.

Aku tak berharap lebih banyak lagi terhadapmu, yang ak ingin kau selalu berada di sampingku, tetap memelukku saat kau tau aku lagi ada masalah.